Selasa, 21 Februari 2012

Efek Analgetik


  1. Nyeri

Analgetika atau obat penghilang nyeri adalah zat – zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak enak dan yang berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan keadaan psikis sangat mempengaruhi nyeri,misalnya emosi dapat menimbulkan sakit (kepala) atau memperberatnya,tetapi dapat pula menghindarkan sensasi rangsangan nyeri. Nyeri merupakan suatu perasaan pribadi dan ambang toleransi nyeri berbeda – beda bagi setiap orang. Batas nyeri untuk suhu adalah konstan yakni pada 44 – 45 o(Tjay,2002).

Nyeri dapat bersifat tajam atau tumpul,terus menerus atau hilang timbul,berdenyut – denyut atau menetap,di suatu tempat atau beberapa tempat. Beberapa nyeri sulit dilukiskan dengan kata – kata intensitasnya bervariasi mulai dari yang ringan sampai yang tak tertahan. Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang dapat membuktikan keberadaan atau parahnya nyeri. Berbagai penyakit kronis (misalnya kangker,arthritis,atau penyakit sel sabit) dan penyakit akut (misalnya luka,luka baker,robekan otot,patah tulang,terkilir,radang usus buntu,batu ginjal dan serangan jantung) menyebabkan nyeri. Kelainan psikis (misalnya depresi dan kecemasan) juga menyebabkan nyeri psikogenik.

Nyeri akut adalah nyeri yang dimulai secara tiba – tiba dan biasanya tidak berlangsung lama. Jika nyerinya berat,bisa menyebabkan denyut jantung yang cepat,laju pernapasan meningkat,tekanan darah meninggi,berkeringat dan pupil melebar. Nyeri kronis adalah nyeri yang berlangsung selama beberapa minggu atau bulan ; istilah ini digunakan jika
  • Nyeri menetap selama 1 bulan
  • Nyeri sering kambuh dan sampai berbulan – bulan bahkan bertahun – tahun
  • Nyeri berhubungan dengan penyakit menahun (misalnya : Kangker)

Nyeri kronis biasanya tidak mempengaruhi denyut jantung,laju pernapasan,tekanan darah atau pupil,tetapi bisa menyebabkan gangguan tidur,mengurangi nafsu makan dan menyebabkan sembelit,penurunan berat badan,berkurangnya gairah seksual dan depresi (Anonim,2008).

Nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala,yang berfungsi melindungi tubuh. Nyeri harus dianggap sebagai isarat bahaya tentang adanya gangguan di jaringan misalnya peradangan (rema,encok),infeksi jasad renik atau kejang otot. Nyeri yang disebabkan rangsangan mekanis kimiawi atau pisis (kalor,listrik) dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan. Rangsangan tersebut memicu pelepasan zat – zat tertentu yang disebut mediator nyeri. Mediator nyeri antara lain dapat mengakibatkan reaksi radang dan kejang – kejang yang mengaktifasi reseptor nyeri di ujung – ujung saraf bebas di kulit mukosa dan jaringan lain. Nociceptor ini terdapat di seluruh jaringan dan organ tubuh kecuali di SSP. Dari sini rangsangan di salurkan ke otak melalui jaringan – jaringan lebat dari tajuk – tajuk neuron dan amat banyak sinapsis via sum – sum tulang belakang,sum – sum lanjutan,dan otak tengah. Dari thalamus (opticus) implus diteruskan ke pusat nyeri di otak besar dimana infuls dirasakan nyeri (Tjay,2002).

Reseptor nyeri dan jalur sarafnya berbeda pada setiap bagian tubuh karena itu serangan nyeri berpariasi berdasarkan jenis dan lokasi cedera yang terjadi. Reseptor nyeri dikulit sangat banyak dan mampu meneruskan informasi secara akurat. Sedangkan sinyal nyeri dari usus sangat terbatas,lokasi nyeri sulit ditentukan dan cenderung dirasakan di daerah yang lebih luas. Nyeri yang dirasakan di beberapa daerah tubuh tidak secara pasti mewakili lokasinya kelainanya,karena nyeri dapat berpindah ketempat lain (refered pain). Refered pain terjadi karena sinyal dari beberapa daerah tubuh sering sekali masuk ke dalam jalur saraf yang sama ke medula spinalis dan otak misalnya nyeri karena serangan jantung bisa dirasakan di leher,rahang,lengan atau perut dan nyeri karena serangan kandung keih bisa dirasakan di bahu (Anonim,2008).

Mediator nyeri kini juga disebut autocoida dan terdiri dari antara lain histamin,serotonin,brdykinin,leukortein,dan prostaglandin. Bradikinin adalah polipeptida (rangkaian asam amino) yang dibentuk dari protein plasma. Prostaglandin mirip stukturnya dengan asam lemak dan terbentuk dari asam arachidonat. Menurut perkiraan zat – zat ini dapat meningkatkan kepekaan ujung saraf sensori bagi rangsangan nyeri yang diakibatkan mediator lainya zat – zat ini juga bradikinin berkhasiat vasodilatasi kuat dan memperluas permeabilitas kapiler yang mengakibatkan radang dan udema (Tjay,2002).
  1. Jenis – Jenis Nyeri
    • Nyeri neuropatik.

nyeri neuropatik disebabkan oleh suatu kelainan di sepanjang suatu jalur saraf. suatu kelainan akan mengganggu sinyal saraf, yang kemudian akan diartikan secara salah oleh otak. Nyeri neuropatik bisa menyebabkan suatu sakit dalam atau rasa terbakar dan rasa lainnya (misalnya hipersensitivitas terhadap sentuhan). Infeksi (misalnya herpes zoster) bisa menyebabkan peradangan pada saraf sehingga terjadi neuralgia post-herpetik. Neuralgia post-herpetik merupakan rasa terbakar yang menahun dan terus menerus dirasakan di daerah yang terinfeksi oleh virus.

Distrofi refleks simpatis merupakan jenis nyeri neuropatik dimana nyeri disertai oleh pembengkakan dan berkeringat atau oleh perubahan pada aliran darah lokal atau perubahan di dalam jaringan (misalnya atrofi atau osteoporosis).
kekakuan (kontraktur) sendi menyebabkan sendi tidak dapat ditekuk atau diluruskan secara sempurna. Kausalgia merupakan nyeri yang terjadi setelah suatu cedera atau penyakit pada saraf utama. Kausalgia menyebabkan nyeri terbakar yang hebat disertai dengan pembengkakan, berkeringat, perubahan aliran darah dan efek lainnya.

Distrofi refleks simpatis maupun kausalgia diobati dengan cara menghambat saraf secara khusus (penghambatan saraf simpatis). salah satu contoh dari nyeri neuropatik adalah phantom limb pain, dimana seseorang yang lengan atau tungkainya telah diamputasi merasakan nyeri pada lengan atau tungkai yang sudah tidak ada. Nyeri bukan berasal dari sesuatu di dalam anggota gerak, tetapi berasal dari saraf diatas anggota gerak yang telah diamputasi. otak salah mengartikan sinyal saraf ini, yaitu berasal dari anggota gerak yang sudah tidak ada (Anonim,2008).
  • Nyeri setelah pembedahan

Hampir setiap orang merasakan nyeri setelah menjalani pembedahan. Nyerinya bisa menetap dan hilang-timbul, semakin memburuk jika penderita bergerak, batuk, tertawa atau menarik nafas dalam atau ketika perban pembungkus luka diganti. Setelah pembedahan biasanya diberikan obat pereda nyeri opioid (narkotik). obat ini paling efektif jika diminum beberapajam sebelum nyeri semakin hebat. Jika nyeri semakin memburuk, penderita harus melakukan aktivitas atau perban luka operasi akan diganti, maka dosisnya bisa ditingkatkan atau ditambah dengan obat lainnya. Opiod menimbulkan efek samping berupa mual, ngantuk dan linglung. Bila nyeri berkurang, sebaiknya dosis diturunkan dan diganti dengan obat pereda nyeri non-opioid (misalnya asetaminofen(Anonim,2008).
  • Nyeri karena kangker

Terjadinya nyeri karena kanker bisa melalui beberapa cara. tumor tumbuh ke dalam tulang, saraf dan organ lainnya dan menyebabkan rasa tidak nyaman atau nyeri hebat yang tak tertahankan. Beberapa pengobatan kanker (misalnya pembedahan dan terapi penyinaran) juga bisa menyebabkan nyeri. Cara terbaik untuk menghilangkan nyeri karena kanker adalah mengobati kankernya. Nyeri akan berkurang jika tumor diangkat melalui pembedahan atau diperkecil ukurannya melalui penyinaran. tetapi biasanya diperlukan pereda nyeri yang lain (Anonim,2008).

Nyeri pada kangker umumnya diobati menurut suatu skema bertingkat empat yaitu pemberian
  1. Obat perifer (non-opioid) per oral atau rectal ; Parasetamol,Asetosal
  2. Obat perifer bersama kodein atau tramadol
  3. Obat sentral (opioid) peroral atau rectal
  4. Obat opioid parenteral (Tjay,2002).

  • Nyeri yang berhubungan dengan kelainan psikis

Nyeri biasanya disebabkan oleh penyakit, sehingga dokter akan mencari penyebab yang bisa diobati. Beberapa penderita memiliki nyeri yang menetap tanpa adanya penyakit yang bisa menimbulkan nyeri. Proses-proses psikis seringkali menimbulkan keluhan nyeri. Nyeri yang dirasakan terutama berasal dari penyebab psikogenik atau disebabkan oleh suatu kelainan fisik, yang bertambah hebat selama penderita mengalami stres psikis. Sebagian besar manifestasi nyeri akibat masalah psikis adalah berupa sakit kepala, nyeri punggung bagian bawah, nyeri wajah, nyeri perut atau nyeri panggul (Anonim,2008).
  • Jenis nyeri yang lainya

Beberapa penyakit, seperti aids, dapat menyebabkan nyeri sehebat nyeri karena kanker. Pengobatan terhadap nyeri yang berhubungan dengan penyakit ini serupa dengan pengobatan untuk kanker. Artritis, baik karena osteoartritis maupun karena penyakit tertentu (misalnya artritis rematoid) merupakan penyakit yang paling sering menyebabkan nyeri.
untuk mengatasinya bisa diberikan obat-obatan atau melakukan latihan-latihan tertentu. Suatu nyeri dikatakan idiopatik jika penyebabnya tidak diketahui, dan tidak ditemukan bukti-bukti adanya penyakit atau masalah psikis (Anonim,2008).


  1. Penanganan Rasa Nyeri

Berdasarkan proses terjadinya rasa sakit (nyeri) dapat dilawan beberapa cara,yakni :
  1. Merintangi terbentuknya rangsangan pada reseptor nyeri perifer dengan analgetika perifer.
  2. Merintangi penyaluran rangsangan di saraf – saraf sensori misalnya dengan anastesi lokal.
  3. 3.       Blokade pusat nyeri di SSP dengan analgetika sentral (narkotika) atau dengan analgetika umum (Tjay,2002).

  1. Pengobatan Nyeri

Atas dasar farmakologinya analgetika dibagi atas :
  1. Analgetika perifer (non narkotik),yang terdiri dari obat – obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral
  2. Analgetika narkotika khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat,seperti factura dan kangker (Tjay,2002).
  3. Analgetika ajupan (Anonim,2008).

    • Analgetika Perifer

Secara kimiawi,analgetik perifer dapat dibagi dalam beberapa kelompok yaitu :
  1. Parasetamol
  2. Salisilat : Asetosal,Salisilamid dan Benorilat
  3. Penghambat prostaglandin (NSAID’s),Ibuprofen (Arthifen) dan lainya
  4. Drivat – drivat antarniat : mefenaminat,asam niflumat glafenin,floktafenin
  5. Drivat – drivat Pirazolinon : aminofenazon,isopropilfenazon,isopropilaminofenazon dan metanizol
  6. Lainya : Benzidamin (Tjay,2002).

Mekanisme analgetika perifer adalah :
  1. Mempengaruhi sisitem prostaglandin,yaitu suatu sistim yang bertanggung jawab terhadap timbulnya nyeri
  2. Mengurangi peradangan,pembengkakan dan iritasi yang sering kali terjadi sekitar luka dan memperburuk rasa nyeri (Anonim,2008).

Daya antipiretiknya berdasarkan rangsangan terhadap pusat pengatur kalor di hipotalamus yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluar banyak keringat. Daya antiradang (antiflogisitasi). Kebanyakan analgetika memiliki daya antiradang,khususnya kelompok besar dari zat – zat penghambat prostaglandin (NSAID’s termsuk Asetosal),begitu pula benzildiamin.

Efek samping yang paling umum adalah gangguan lambung usus (salisislat,penghambat prostaglandin,dan drivat – drivat pirazolinon),kerusakan darah (parasetamol,salisilat,drivat – drivat antarniat,drivat – drivat pirazolinon),kerusakan hati dan ginjal (parasetamol dan penghambat prostaglandin) dan juga reaksi alergi pada kulit. Efek samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau dosiss tinggi (Tjay,2002).

Zat – Zat Tersendiri
    • Parasetamol

Derivat – asetanilida ini adalah metabolit dari fanestein. Khasiat analgetik dan antipiretik tapi tidak antiradang. Epek analgetisnya diperkuat oleh kofein dengan kira – kira 50 % dan kodein. Reapsoropsinya di usus cepat dan praktis tuntas,secara rectal lebih lambat. PP-nya ca 25%,plasma t ½ nya 1 – 4 jam. Dalam hati zat ini diuraikan menjadi metabolit toksik yang diekskresikan dengan kemih sebagai konjugat glukoronida dan sulfat. Efek samping tak jarang terjadi antara lain reaksi hipersensitivitas dan kelainan darah pada penggunaan kronis dari 3 – 4 g sehari dapat terjadi kerusakan. Pada dosis diatas 6 g mengakibatkan necrose hati yang tidak reversibel. Interaksi pada dosis tinggi dapat mempertingi efek antikoagulasinya dan pada dosis biasa tidak efektif. Masa paruh klorampenikol dapat sangat diperpanjang. Kombinasi dengan obat AIDS zidovudin meningkatkan resiko neutropenin.

Dosis : Untuk nyeri dan demam oral 2-3 dd 0,5 – 1 g,maksimum 4 g sehari,pada pengunaan kronis maksimum 2,5 g/hari. Anak – anak 4-6 dd 10 mg/kg,yakni rata – rata usia 3 – 12 buan 60 mg ,1-4 tahun 120 – 360 mg, 4-6 kali sehari. Rektal 20 mg/kg setiap kali,dewasa 4 dd 0,5 – 1 g, anak – anak 3 – 12 buan 120 mg,1-4 tahun 2-3 dd 240 mg,4-6 tahun 4 dd 240 mg dan 7-12 tahun 2-3 dd 0,5 g (Tjay,2002).

Rumus Stuktur Parasetaol



N-asetil-4-aminofenol

C8H9NO2                                                                             BM : 151,16

Pemerian            : Hablur atau serbuk hablur putih tidak berbau ; rasa

pahit

Kelarutan            : Larut dalam 70 bagian air,dalam 7 bagian etanol

(95%) P dalam 1,3 bagian aseton P dalam 40 bagian

gliserol P dan dalam 9 bagian Propilenglikol larut

dalam larutan alkali  hidroksida (Anonim,1979).

Mekanisme kerja yang sebenarnya dari parasetamol masih menjadi bahan perdebatan. Parasetamol menghambat produksi prostaglandin (senyawa penyebab inflamasi), namun parasetamol hanya sedikit memiliki khasiat anti inflamasi. Telah dibuktikan bahwa parasetamol mampu mengurangi bentuk teroksidasi enzim siklooksigenase (COX), sehingga menghambatnya untuk membentuk senyawa penyebab inflamasi. Sebagaimana diketahui bahwa enzim siklooksigenase ini berperan pada metabolisme asam arakidonat menjadi prostaglandin H2, suatu molekul yang tidak stabil, yang dapat berubah menjadi berbagai senyawa pro-inflamasi (Anonim,20082)
  • Asam Asetil Salisilat

Asetosal adalah obat antinyeri tertua (1899),yang sampai kini paling banyak di gunakan di seluruh dunia. Zat ini juga berkhasiat anti demam kuat dan pada dosis rendah sekali (40 mg) berdaya menghambat agregasi trombosit. Efek antitrombosit ini tidak reversibel dan berdasarkan blockade enzim siklo-oksigenase A2 (TxA2) yang brsifat trombotis dan vasokontraktif dihindarkan. Pada dosis lebih besar dari normal (diatas 5 g sehari) obat ini juga berkhasiat antiradang. Reapsoropsinya cepat dan praktis lengkap terutama di bagian pertama duodenum. Namun karena bersifat asam,sebagian zat diserap pula di lambung. Mulai efek analgetis antipiretiknya cepat yakni setelah 30 menit dan bertahan 3 – 6 jam. Kerja antiradang baru nampak setelah 1 – 4 hari. Di dalam hati,zat ini segera dihidrolisis menjadi asam salisilat dengan daya anti nyeri lebih ringan. PP-nya 90 – 95 % plasma t ½ nya 15 – 20 menit,masa paruh asam salisilat adalah 2 – 3 jam pada dosis 1 – 3 g/hari. Epek samping yang paling sering terjadi berupa iritasi mukosa lambung dengan risiko tukak lambung dan pendarahan sawar (occult). Penyebabnya adalah sifat asam dari asetosal,yang dapat dikurangi melalui kombinasi dengan suatu antasidum atau garam kalsiumnya. Selain itu asetosal menimbulkan efek – efek spesifik seperti reaksi alergi kulit dan tinnitus (telinga berdengung) pada dosis yang lebih tinggi efek yang lebih serius adalah kejang – kejang bronki hebat yang pada pasien asma.meski dalam dosis kecil dapat mengakibatkan serangan. Interaksi asetosal memperkuat daya kerja antikolinergiknya,antidiabetika oral dan metotreskat. Efek obat encok frobenasid supirinpinazon berkurang begitu pula diuretika furosemid dan spironolakton kerja analgetiknya di perkuat oleh antara lain kodein dan d- propoksifen. Alkohol meningkatkan pendarahan lambung usus.

Dosis pada nyeri dan demam oral 4 dd 0,5 – 1g p.c,maksimum 4g sehari anak – anak sampai 1 tahun 10 mg/kg 3 -4 kali sehari, 1-12 tahun 4 – 6 dd diatas 12 tahun 4 dd 320 – 500 mg maksimum 2g/hari (Tjay,2002).

Rumus Stuktur



C9H8O4                                                BM 180,16

Pemerian            : Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih tidak berbau atau hampir tidak berbau ; rasa asam.

Kelarutan            : Agak sukar larut dalam air,mudah larut dalam etanol (95%) P;larut dalam kloroform P;dan dalam eter P.

Mekanisme kerja menghambat produksi prostaglandin untuk mengurangi respon tubuh terhadap serangkaian proses kimia yang akhirnya menuju terbentuknya rasa nyeri bekerja menghambat enzim siklooksigenase (Cox) secara ireversibel dan langsung menghambat sisi aktif enzim (Anonim,2006)
  • Analgetik Narkotik

Analgetik narkotik,kini disebut juga opioid (= mirip opiat),adalah zat yang bekerja pada reseptor opioid khas SSP,hingga presepsi nyeri dan respon emosial terhadap nyeri yang dikurangi. Atas dasar cara kerjanya obat – obat ini dapat dibagi dalam 3 kelompok yaitu :
  1. Agonis opiat yang dapat dibagi dalam,alkaloid candu,morfin,kodein,heroin,nicomorfin
  2. Antagonis opiat : nolakson,nalorfin,pentazoin,bufeneprin,dan nolbufin.Bila digunakan sebagai analgetik obat ini dapat menduduki reseptor
  3. Kombinasi zat – zat ini juga mengikat pada reseptor opiat tetapi tidak mengaktivasi kerjanya dengan sempurna

Mekanisme kerja endopirin bekerja dengan jalan menduduki reseptor – reseptor nyeri dari SSP hingga perasaan nyeri dapat diblokir. Khasiat analgetik opioidnya berdasarkan kemampuanya untuk menduduki sisa – sisa reseptor nyeri yang belum ditempati endofirin. Tetapi bila analgetika tersebut digunakan terus menerus pembentukan reseptor – reseptor baru di stimulasi dan produksi endofirin  di ujung saraf otak di rintangi. Akibatnya terjadinya kebiasaan dan ketagihan.

WHO telah menyusun suatu program penggunaan analgetika untuk nyeri hebat (misalnya pada kangker) yang menggolongkan obat dalam 3 kelas yakni :
  1. Non-opioid NSAID’s termasuk asetosal dan kodein
  2. Opioida lemah,d- profoksim,tramadol dan kodein atau kombinasi parasetamol dan kodein
  3. Opioida kuat,morfin dan drivat – drivat-nya serta zat – zat sintetis opioid

Morfin dan opioid lainya menimbulkan sejumlah besar efek samping yang tidak diinginkan yaitu :
  1. Supresi SSP misalnya sedasi menekan pernapasan dan batuk,miosis hipotermia,dan perubahan suasana jiwa (mood). Akibat stimulasi langsung dari CTZ (chemo tringer zona) timbul mual dan muntah pada dosis lebih tinggi mengakibatkan menurunya aktivitas mental dan motoris.
  2. Saluran cerna : motilitas berkurang (obesitas),konstraksi sfingter kandung empedu (kolik batu empedu)
  3. Saluran Urogenital : retensi urine (karena naiknya tonus dari sfingter kandung kemih),motilitas uterus berkurang (waktu persalinan diperpanjang)
  4. Saluran napas : bronkokontriksi,pernapasan menjadi lebih dangkal dan frekwensinya turun
  5. Sistem sirkulasi : vasodilatasi,hipertensi dan bradykardia
  6. Histamin – liberator : urticaria dan gatal – gatal,karena menstimulasi pengeluaran histamin
  7. Kebiasaan dengan risiko adiksi pada penggunaan lama bila terapi dihentikan dapat terjadi gejala abstinesi (Tjay,2002).

Beberapa Kelebihan dan Kekurangan Analgetika Opioid
  1. morfin, merupakan prototipe dari obat ini, yang tersedia dalam bentuk suntikan, per-oral (ditelan) dan per-oral lepas lambat.
    sediaan lepas lambat memungkinkan penderita terbebas dari rasa nyeri selama 8-12 jam dan banyak digunakan untuk mengobati nyeri menahun.
  2. analgetik opioid seringkali menyebabkan sembelit, terutama pada usia lanjut.
    pencahar (biasanya pencahar perangsang, contohnya senna atau fenolftalein) bisa membatu mencegah atau mengatasi sembelit.
  3. opioid dosis tinggi sering menyebabkan ngantuk.
    untuk mengatasinya bisa diberikan obat-obat perangsang (misalnya metilfenidat).
  4. analgetik opioid bisa memperberat mual yang dirasakan oleh penderita.
    untuk mengatasinya diberikan obat anti muntah, baik dalam bentuk per-oral, supositoria maupun suntikan (misalnya metoklopramid, hikroksizin dan proklorperazin).
  5. opioid dosis tinggi bisa menyebabkan reaksi yang serius, seperti melambatnya laju pernafasan dan bahkan koma.
    efek ini bisa dilawan oleh nalokson, suatu penawar yang diberikan secara intravena (Anonim,2008).

Zat – Zat Tersendiri
  • Tramadol

Berkhasiat Analgetik sedang dan berdaya menghambat reuptake noradrenergic dan anti tusif (anti – batuk). Obat ini di sebagian negara dianggap sebagai analgetikum opiate karena bekerja sentral,yakni melalui pendudukan reseptor opioid. Meskipun demikian,zat ini tidak menekan pernapasan,prakis tidak mempengaruhi sistem kardiovaskular atau motilitas lambung-usus. Resorpsinya di usus cepat dengan BA rata – rata 78%,PP-nya 20 %,plasma t ½ nya 6 jam. Epeknya dimulai sesudah 1 jam dan dapat bertahan 6 – 8 jam. Dalam hal sebagian besar zat diuraikan menjadi antara lain metabolit dengan daya kerja 6 x lebij kuat. Ekskresinya berlangsung lewat urin,untuk 10 % secara utuh efek samping tidak begitu berat dan tersering berupa termgu – termagu,berkeringat,pusing,mulut kering,mual dan muntah,juga obstifasi,gatal – gatal,rash,nyeri kepala dan letih.

Dosis : diatas 14 tahun 3 – 4 dd 50 – 100 mg,maksimum 400 mg sehari. Anak – anak di atas 1 tahun 3 – 4 dd 1-2 mg/kg (Tjay,2002).

Rumus Stuktur


  •    Analgetika Ajuvan

Analgetik ajuvan adalah obat-obatn yang biasanya diberikan bukan karena nyeri, tetapi pada keadaan tertentu bisa meredakan nyeri. Contohnya, beberapa anti-depresi juga merupakan analgetik non-spesifik dan digunakan untuk mengobati berbagai jenis nyeri menahun, termasuk nyeri punggung bagian bawah, sakit kepala dan nyeri neuropatik. Obat-obat anti kejang (misalnya karbamazepin) dan obat bius lokal per-oral (misalnya meksiletin) digunakan untuk mengobai nyeri neuropatik.
  • anestesi lokal & topikall

Anestesi (obat bius) lokal bisa digunakan langung pada atau di sekitar daerah yang luka untuk membantu mengurangi nyeri. Jika nyeri menahun disebabkan oleh adanya cedera pada satu saraf, maka bisa disuntikkan bahan kimia secara langsung ke dalam saraf untuk menghilangkan nyeri sementara. Anestesi topikal (misalnya lotion atau salep yang mengandung lidokain) bisa digunakan untuk mengendalikan nyeri pada keadaan tertentu. Krim yang mengandung kapsaisin (bahan yang terkandung dalam merica) kadang bisa membantu mengurangi nyeri karena herpes zosterosteoartritis dan keadaan lainnya (Anonim,2008).

Tabel 1. Profil Farmakokinetik & Farmakodinamik Analgetik

Obat


Konsentrasi Analgetik (jam)


Eliminasi dalam tubuh (jam)


Onset analgetik (jam)


Durasi analgetik (jam)

Aspirin
0,25 – 2


0,25 – 0,33


0,5


3 – 6

Acetaminofen
0,5 – 2


1,25 – 3


0,5 – 1


3 – 6

Tramadol
2 – 3


6 – 7


< 60 menit


4 – 6


Tabel 2. Dosis Analgetik Untuk Dewasa

Obat


Dosis (mg)


Dosis Maksimum (mg/hari)

Aspirin
325 – 650 tiap 4 jam


4000

Acetaminofen
325 – 1000 tiap 4 – 6 jam


4000

Tramadol
50 – 100 tiap 4 – 6 jam


400 mg /24 jam


  1. Pengobatan Nyeri Tanpa Obat

Selain obat-obatan, pengobatan lainnya juga bisa membantu mengurangi nyeri. mengobati penyakit yang mendasarinya, bisa menghilangkan atau mengurangi nyeri yang terjadi. misalnya memasang gips pada patah tulang atau memberikan antibiotik untuk infeksi sendi, bisa mengurangi nyeri.

Tindakan yang bisa membantu mengurangi nyeri adalah:
  1. Kompres dingin dan hangat
  2. Ultrasonik bisa memberikan pemanasan dalamd an mengurangi nyeri karena otot yang robek atau rusak dan peradangan pada ligamen
  3. Tens (transcutaneous electrical nerve stimulation) merupakan arus listrik ringan yang diberikan pada permukaan kulit
  4. Akupuntur, memasukkan jarum kecil ke bagian tubuh tertentu.
    mekanismenya masih belum jelas dan beberapa ahli masih meragukan efektivitasnya.
  5. Biofeedback dan teknik kognitif lainnya (misalnya hipnotis atau distraksi) bisa membantu mengurangi nyeri dengan merubah perhatian penderitanya.
    teknik ini melatih penderita untuk mengendalikan nyeri atau mengurangi dampaknya.
  6. Dukungan psikis merupakan faktor yang tidak boleh disepelekan.
    sebaiknya diperhatikan tanda-tanda adanya depresi dan kecemasan, yang mungkin akan memerlukan penanganan ahli jiwa (Anonim,2008).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim,2008.Analgetik .www.medicastore.com Diakses 6-2-2008

Tjay,tan hoan & Kirana Rahardja.2002. Obat – obat penting. PT elex media competindo: Jakarta

Anonim,20082.Parasetamol obat demam dan nyeri andalan.www.kesehatan satub.blogspot.com diakses 20 – 3 – 2009

Anonim,1979, Farmakope Indonesi Ed III,Depkes RI : Jakarta

Anonim 2006,Analgesik untuk nyeri kangker.www.majalah farmasi.com diakses 20-3- 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog

Copyright © Article Sharing

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog