Rabu, 22 Februari 2012

Minyak Atsiri




Minyak Atsiri

Minyak atsiri adalah zat berbau yang terkandung dalam

tanaman. Minyak ini disebut juga minyak menguap, minyak eteris atau minyak

esensial karena pada suhu biasa (suhu kamar) mudah menguap diudara terbuka.

Sedangkan definisi minyak atsiri dalam buku Encyclopedia of Chemical Technology

menyebutkan bahwa minyak atsiri meruapakan senyawa yang pada umumnya

berwujud cair, yang diperoleh dari bagian tanaman, akar, kulit, daun, buah, biji,




maupun bunga dengan cara penyulingan.(Gunawan dan Mulyani,2004;


Sastrohammidjojo,2004)

Kegunaan Minyak Atsiri

Peranan minyak atsiri pada tanaman itu sendiri adalah sebagai pengusir

serangga pemakan daun sebaliknya minyak atsiri dapat berfungsi sebagai penarik

serangga guna proses penyerbukan dan sebagai cadangan makanan. Selain dua

kegunaannya tadi juga berguna sebagai cadangan makanan dalam tanaman.

Kegunaan minyak atsiri pada manusia umumnya berbeda-beda misalnya sebagai

antiseptik dan sebagai antibakteri. sedangkan aromanya juga dapat digunakan untuk

mempengaruhi emosi dan pikiran (Gunawan dan Mulyani, 2004; Ketaren, 1985).

Sebuah referensi menyebutkan, minyak nilam bisa untuk bahan antiseptik,

antijamur, antijerawat, obat eksem dan kulit pecah-pecah, serta ketombe. Juga bisa

mengurangi peradangan. Bahkan dapat juga membantu mengurangi kegelisahan dan

depresi, atau membantu penderita insomnia (gangguan susah tidur). Makanya

minyak ini sering dipakai untuk bahan terapi aroma. Juga bersifat afrodisiak:

meningkatkan gairah seksual. Bukan cuma minyak nilamnya yang bermanfaat. Di

India daun kering nilam juga digunakan sebagai pengharum pakaian dan permadani.

Malahan air rebusan atau jus daun nilam, kabarnya, dapat diminum sebagai obat

batuk dan asma. Remasan akarnya untuk obat rematik, dengan cara dioleskan pada

bagian yang sakit. Bahkan juga manjur untuk obat bisul dan pening kepala. Remasan

daun nilam dioleskan pada bagian yang sakit.

Komposisi Kimia Minyak Atsiri

Pada umumnya perbedaan komposisi minyak atsiri disebabkan perbedaan

jenis tanaman penghasil, kondisi iklim, tanah tempat tumbuh, umur panenan, metode

ekstraksi yang digunakan dan cara penyimpanan minyak.

Minyak atsiri biasanya terdiri dari berbagai campuran persenyawaan kimia

yang terbentuk dari unsur Karbon (C), Hidrogen (H), dan oksigen (O). Pada

umumnya komponen kimia minyak atsiri dibagi menjadi dua golongan yaitu: 1)

Hidrokarbon, yang terutama terdiri dari persenyawaan terpen dan 2) Hidrokarbon

teroksigenasi.

a. Golongan Hidrokarbon

Persenyawaan yang termasuk golongan ini terbentuk dari unsur Karbon (C)

dan Hidrogen (H). Jenis hidrokarbon yang terdapat dalam minyak atsiri sebagian

besar terdiri dari monoterpen (2 unit isopren), sesquiterpen (3 unit isopren), diterpen

(4 unit isopren) dan politerpen. Golongan ini lebih mudah mengalami proses

oksidasi dan resinifikasi.

b. Golongan Hidrokarbon Teroksigenasi

Komponen kimia dari golongan persenyawaan ini terbentuk dari unsure

Karbon (C), Hidrogen (H) dan Oksigen (O). Persenyawaan yang termasuk dalam

golongan ini adalah persenyawaan alkohol, aldehid, keton, ester, eter, dan fenol.

Ikatan karbon yang terdapat dalam molekulnya dapat terdiri dari ikatan jenuh dan

ikatan tak jenuh. Persenyawa Terpen umumnya tersusun ikatan tidak jenuh.

Golongan ini lebih tahan dan stabil terhadap proses Oksidasi dan Resinifikasi. Salah

satu contohnya adalah patchouli alkohol (Ketaren, 1985).

Cara Isolasi Minyak Atsiri

Isolasi minyak atsiri dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: 1) Penyulingan

(distillation), 2) Pengepresan (pressing), 3) Ekstraksi dengan pelarut menguap

(solvent extraction), 4) Ekstraksi dengan lemak.

Metode Penyulingan

a. Penyulingan dengan air

Pada metode ini, bahan tanaman yang akan disuling mengalami kontak

langsung dengan air mendidih. Bahan dapat mengapung di atas air atau terendam

secara sempurna, tergantung pada berat jenis dan jumlah bahan yang disuling. Ciri

khas model ini yaitu adanya kontak langsung antara bahan dan air mendidih. Oleh

karena itu, sering disebut penyulingan langsung

Penyulingan dengan cara langsung ini dapat menyebabkan banyaknya rendemen

minyak yang hilang (tidak tersuling) dan terjadi pula penurunan mutu minyak yang

diperoleh.

b. Penyulingan dengan uap

Model ini disebut juga penyulingan uap atau penyulingan tak langsung. Pada

prinsipnya, model ini sama dengan penyulingan langsung. Hanya saja, air penghasil

uap tidak diisikan bersama-sama dalam ketel penyulingan. Uap yang digunakan

berupa uap jenuh atau uap kelewat panas dengan tekanan lebih dari 1 atmosfer.

c. Penyulingan dengan air dan uap

Pada model penyulingan ini, bahan tanaman yang akan disuling diletakkan di

atas rak-rak atau saringan berlubang. Kemudian ketel penyulingan diisi dengan air

sampai permukaannya tidak jauh dari bagian bawah saringan. Ciri khas model ini

yaitu uap selalu dalam keadaan basah, jenuh, dan tidak terlalu panas. Bahan tanaman

yang akan disuling hanya berhubungan dengan uap dan tidak dengan air panas

(Lutony & Rahmayati, 1994).

Metode Pengepresan

Ekstraksi minyak atsiri dengan cara pengepresan umumnya dilakukan

terhadap bahan berupa biji, buah, atau kulit buah yang memiliki kandungan minyak

atsiri yang cukup tinggi. Akibat tekanan pengepresan, maka sel-sel yang

mengandung minyak atsiri akan pecah dan minyak atsiri akan mengalir ke

permukaan bahan. Contohnya minyak atsiri dari kulit jeruk dapat diperoleh dengan

cara ini (Ketaren, 1985).

Ekstraksi dengan Pelarut Menguap

Prinsipnya adalah melarutkan minyak atsiri dalam pelarut organik yang

mudah menguap. Ekstraksi dengan pelarut organik pada umumnya digunakan

mengekstraksi minyak atsiri yang mudah rusak oleh pemanasan uap dan air,

terutama untuk mengekstraksi minyak atsiri yang berasal dari bunga misalnya bunga

cempaka, melati, mawar, dan kenanga. Pelarut yang umum digunakan adalah

petroleum eter, karbon tetra klorida dan sebagainya (Ketaren, 1985).

Ekstraksi dengan Lemak Padat

Proses ini umumnya digunakan untuk mengekstraksi bunga-bungaan, untuk

mendapatkan mutu dan rendeman minyak atsiri yang tinggi. Metode ekstraksi dapat

dilakukan dengan dua cara yaitu enfleurasi dan maserasi.

DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, D dan Mulyani, S.(2004) Ilmu Obat Alam (Famakognosi). Jilid I. penebar

swadaya. Jakarta. Halaman 106-118.

Ketaren, S. (1985). Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Jakarta: Penerbit Balai

Pustaka. Halaman 28-29.

Lutony, T.L. dan Rahmayati, Y. (2000). Produksi dan Perdagangan Minyak Atsiri.

Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya. Halaman 1-3.

Santrohamidjojo (2004). Kimia Minyak Atsiri. Yogyakarta, penerbit UGM. Halaman

69-77

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog

Copyright © Article Sharing

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog