Alergi Obat

Alergi obat atau hiversensitivitas obat adalah reaksi obat yang tidak dapat diterangkan/ tidak dapat dihubungkan dengan efek farmakologi obat tersebut yang memerlukan sensitasi atau kontak sebelumnya dan menghasilkan manifestasi reaksi alergi spesifik atau dianggap dapat berasal dari suatu mekanisme imunologik.

Reaksi alergi atau hipersensitif terhadap obat sering ditemukan, sulit untuk ditentukan, tidak terduga, dan sulit untuk ditanggulangi. Reaksinya dapat muncul dengan cepat, segera (beberapa menit)  setelah pemberian obat, dan umumnya reaksi ini lebih sering muncul 7-10 hari setelah pemberian pertama terus menerus. Selalu diperlukan kontak sebelumya atau diperlukan suatu periode sensitasi. Bila ditemukan efek samping 7-10 hari sejak dimulainya terapi , dapat merupakan indikasi penting untuk menduga kemungkinan adanya reaksi sensitivitas. Pemberian pertama dapat merupakan periode sensitasi dan pemberian kedua setelah berbulan- bulan atau bertahun-tahun kemudian dapat menimbulkan reaksi alergi. Hal ini sering terjadi pada reaksi serum sickness yang disebabkan oleh antitoksin serum kedua atau penisilin. 

Mekanisme sensitasi sebenarnya belum diketahui seluruhnya dari reaksi hipersensitif terhadap obat. Tes kulit dengan suntikan intradermal atau dengan pemberian obat jarang menghasilkan reaksi yang positif. Sebaliknya antibodi terhadap suatu obat sering ditemukan pada penderita yang menggunkan obat tersebut dengan aman.

Ciri-ciri Reaksi Alergi Obat 

  1. Berat ringanya gejala tidak tergantung pada dosis obat 
  2. Reaksi ini hanya terjadi pada orang tertentu saja 
  3. Gejala tidak ada kaitanya dengan efek farmakodinamika obat 
  4. Gejala berkaitan erat dengan gejala reaksi alergi 
  5. Gejala timbul setelah lebih dulu ada kontak (setelah sensitasi)
  6. Umumnya reaksi alergi obat merupakan respons yang tidak terduga 
10 Pedoman Pencegahan alergi obat 
  1. Penggunaan obat harus dengan indikasi yang kuat 
  2. Riwayat alergi obat
  3. Apakah ada obat alternatif 
  4. Hindari sensitasi yang tidak perlu 
  5. Hati-hati akan kemungkinan terjadinya syok anafilaktik pada penderita atopi 
  6. Tes kulit dan densitasnya hanya boleh dilakukan oleh ahli yang berpengalaman 
  7. Hindarkan premedikasi dari antihistamin dan kortikosteroid 
  8. Sediakan obat darurat elergi (adrenalin dalam spuit) 
  9. Beri penjelasan pada penderita agar ia selalu mengingatkan dokter tentang ia alergi obat, atau buat surat keterangan alergi obat
  10. Catat alergi obat pada kartu berobat atau status pasien 
Daftar Pustaka : Kumpulan Kuliah Farmakologi Edisi 2 ,EGC, Hal 302-303 (2008)

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar

Daftar Blog Saya